Minggu pagi di sebuah gereja tua seharusnya berlangsung damai. Jemaat sudah duduk rapi, paduan suara bersiap menyanyikan himne, dan cahaya matahari menembus jendela kaca patri dengan begitu indah. Namun, semuanya berubah ketika seekor kucing oren bernama Momo melompat ke atas mimbar, mengenakan dasi kupu-kupu merah dan membawa sebuah kitab yang ternyata berisi kumpulan resep ikan tuna. Tanpa merasa bersalah sedikit pun, Momo mengetuk mikrofon tiga kali sebelum membuka khotbahnya dengan suara lantang, "Meow, saudara-saudara! Hari ini kita akan membahas dosa terbesar umat perkucingan: membiarkan mangkuk makanan kosong selama lebih dari lima menit!"
Seluruh jemaat terdiam. Seekor kucing Persia di barisan depan langsung menutup wajahnya dengan kedua kaki. Sementara itu, paduan suara yang terdiri dari tujuh anak kucing mulai mengeong dengan nada yang tidak sepenuhnya harmonis. Momo melanjutkan khotbahnya dengan penuh percaya diri. Ia berbicara tentang tujuh dosa besar yang menurutnya sangat tidak adil bagi kucing. Gluttony? Bagaimana mungkin makan enam kali sehari dianggap rakus? Sloth? Bukankah tidur delapan belas jam merupakan bentuk meditasi spiritual? Dan Pride? Tolonglah, semua orang tahu bahwa kucing memang makhluk paling sempurna yang pernah diciptakan. Seorang kucing tua dari bangku belakang berteriak, "AMEN!" sebelum kembali tertidur.
Namun, kekacauan sesungguhnya dimulai ketika seekor anak kucing bernama Mochi berdiri dan mengangkat kaki mungilnya. "Pastor Momo, bukankah kemarin kamu mencuri ikan dari dapur gereja?" Momo terdiam. Keringat dingin imajiner mulai mengalir di balik bulunya yang tebal. "Itu bukan mencuri, anakku. Itu adalah redistribusi sumber daya laut." Jemaat mulai berbisik. Mochi belum selesai. "Terus kenapa kamu menjatuhkan vas bunga?" Momo menarik napas panjang. "Gravitasi, Mochi. Salahkan Newton." Kali ini, bahkan organ gereja seolah berhenti berbunyi karena malu.
Ketika semua orang mulai mempertanyakan kredibilitas sang pengkhotbah, Momo akhirnya menghela napas dan menundukkan kepala. "Baiklah. Aku memang mencuri ikan, menjatuhkan vas, dan menggigit kabel mikrofon minggu lalu. Aku juga pernah buang air di sepatu penjaga gereja." Suasana mendadak hening. "Tapi bukankah inti dari pengampunan adalah memberi kesempatan kedua kepada mereka yang berbuat salah?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Seluruh jemaat mulai tersentuh. Bahkan Mochi tampak hampir menangis. Untuk sesaat, semua orang mengira mereka sedang menyaksikan pertobatan paling mengharukan dalam sejarah gereja tersebut.
Sayangnya, momen sakral itu berakhir ketika Momo menambahkan, "Dan karena aku sudah bertobat, aku berharap seluruh ikan tuna yang disita dari kamarku segera dikembalikan." Paduan suara langsung berhenti. Seekor kucing hitam menjatuhkan buku himnenya. Dari belakang, terdengar suara seseorang berteriak, "ITU BUKAN CARA KERJA PENGAMPUNAN, MOMO!" Namun, Momo sudah berlari meninggalkan mimbar sambil membawa keranjang persembahan yang entah bagaimana kini penuh dengan camilan kucing.
Demikianlah berakhir ibadah Minggu paling kacau dalam sejarah Gospel of Meow. Melalui kisah absurd ini, MOMO189 mengingatkan kita bahwa setiap makhluk berhak mendapatkan kesempatan kedua, meskipun beberapa di antaranya mungkin membutuhkan kesempatan ketiga, keempat, atau bahkan keseratus delapan puluh sembilan. Karena pada akhirnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita semua pernah melakukan kesalahan, pernah bersikap egois, dan pernah menyalahkan gravitasi atas sesuatu yang jelas-jelas kita jatuhkan sendiri.
Moral of the story? Forgive your enemies, love your neighbors, and never trust an orange cat with church finances.