Tyrone Presbyterian Church sudah kosong hampir dua belas tahun ketika lampu di dalamnya tiba-tiba menyala lagi. Gereja itu berdiri di ujung kota, tersembunyi di balik deretan pohon tua dan pemakaman kecil yang bahkan jarang dikunjungi keluarga para penghuni makamnya. Tidak ada yang terlalu peduli pada bangunan itu sampai beberapa warga mulai melihat cahaya merah dari jendela kaca patri setiap malam, tepat setelah pukul dua belas. Masalahnya sederhana: listrik gereja sudah diputus sejak lama.
Orang pertama yang berani masuk bernama Daniel, seorang teknisi listrik yang tinggal tidak jauh dari sana. Ia datang sore hari bersama pemilik tanah untuk memastikan tidak ada kabel ilegal atau orang yang menumpang tinggal di dalam. Tidak ada apa-apa. Papan lantai penuh debu, altar kosong, dan semua sakelar sudah mati. Namun saat Daniel hendak pulang, ia melihat satu hal aneh. Sebuah kursi di barisan paling belakang menghadap ke arah yang salah. Semua bangku lain menghadap altar, sedangkan kursi itu menghadap pintu masuk.
Malam itu Daniel terbangun karena mendengar suara lonceng gereja. Rumahnya berjarak hampir dua kilometer, tetapi suaranya terdengar jelas, seolah lonceng itu tergantung tepat di luar jendela kamar. Tiga kali dentang, lalu sunyi. Ketika ia melihat jam, waktunya menunjukkan pukul 03.13. Keesokan paginya, Daniel kembali ke gereja sendirian. Ia tidak pernah menjelaskan kenapa.
Teleponnya ditemukan dua hari kemudian di depan altar. Video terakhir di dalamnya hanya berdurasi empat menit. Daniel berjalan sambil memegang senter, memanggil siapa pun yang mungkin ada di dalam. Tidak ada jawaban sampai ia mendekati mimbar. Dari rekaman terdengar suara seseorang berbisik, sangat pelan, “Jangan duduk di kursi belakang.” Daniel berhenti, lalu kamera berbalik ke arah pintu.
Kursi itu sekarang berada di tengah lorong.
Ada seseorang duduk di atasnya.
Rekamannya terlalu gelap untuk memperlihatkan wajah, tetapi sosok itu tampak mengenakan pakaian hitam panjang. Daniel bertanya siapa dia. Orang itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah altar. Ketika kamera kembali menghadap ke depan, ada tulisan baru di dinding belakang altar. Cat merahnya masih terlihat basah.
DEMON189.
Setelah kejadian itu, gereja ditutup lagi. Pihak kota memasang rantai besar di pintunya, dan tidak ada yang boleh masuk tanpa izin. Tapi cahaya merah tetap muncul setiap malam. Beberapa warga mulai bilang mereka melihat bayangan orang berdiri di balik jendela. Ada juga yang mengaku mendengar suara seseorang membaca doa, lalu tiba-tiba berhenti dan tertawa.
Sebulan kemudian, seorang pendeta bernama Elias meminta izin masuk untuk melakukan eksorsisme. Ia datang bersama dua orang asistennya dan membawa beberapa perlengkapan ritual. Mereka masuk pukul sebelas malam. Tidak ada kamera, tidak ada wartawan, dan tidak ada penonton. Hanya tiga orang dan sebuah gereja kosong.
Pukul 03.13, lonceng berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu seluruh kota mendengar suara kaca pecah dari arah gereja.
Ketika polisi tiba menjelang subuh, pintu gereja sudah terbuka. Tidak ada tanda-tanda perkelahian. Tidak ada darah. Tidak ada mayat. Ketiga orang itu hilang begitu saja.
Di altar, mereka hanya menemukan salib kayu milik Elias dan sebuah buku doa yang terbuka di satu halaman. Di tepi halaman itu ada tulisan tangan baru yang bukan tulisan Elias.
“Eksorsisme berhasil.”
Di bawahnya ada satu kalimat lain.
“Yang kalian usir bukan aku.”